Aku masih menatap Matahari lekat-lekat. Sekuat tenaga, sekeras aku mampu marah kepadanya dan melampiaskan sekeping kelelahan dari dalam sini. Tanganku cukup erat menggenggam bara luka hati yang penuh peluh. Aku sadar dan sangat bisa ditanya tentang segala hal. Aku marah tapi cukup mampu mendengar semua dengung di telinga yang tidak berkurang atau bertambah sedikitpun.
Hanya bercelana pendek dan berkaus serta bertelanjang kaki. Cukup begitu saja aku berdiri menantang matahari yang sedari tadi tak peduli dan terus meninggi. Ya, acuh sajalah kau sombong!! dan akupun akan terus memaki maki kau yang berlalu dan berlalu terus meninggi melepas gerah yang kuterima mentah-mentah. Sebelum kering bola mata ini dan habis satu tarikan nafas terakhir jangan lari pikirku mengumpat Matahari.